Please Join Comunity Online

Premium WordPress Themes

Search

TRANSLATE

All wigs free Shipping with 3 free gifts at Wigsbuy, Shop Now! Beddinginn.com
Showing posts with label Umum. Show all posts
Showing posts with label Umum. Show all posts

Tuesday, October 28, 2014

Info Tsunami Raksasa di Teluk Lituya

Lituya Bay atau teluk Lituya adalah fjord yang terletak di Patahan Fairweather di bagian timur laut dari Teluk Alaska. Panjangnya sekitar 11,3 kilometer dan lebarnya hingga 3,2 kilometer. Lituya Bay memiliki kedalaman maksimum sekitar 219 meter tetapi ambangnya atau mulut teluk, yang memisahkannya dari Teluk Alaska antara La Chaussee Spit dan Harbor Point, hanya 9,7 meter kedalamannya.
Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Patahan Fairweather di ujung timur laut Teluk bertanggung jawab atas bentuk “T” teluk ini. Gerusan Glacial telah mengeksploitasi zona lemah sepanjang patahan untuk menghasilkan palung linear panjang yang dikenal sebagai Fairweather Trench. Lituya Glacier dan Crillon Glacier berada disepanjang bagian dari Palung Fairweather di daerah Teluk Lituya. Gilbert Inlet dan Crillon Inlet menempati Palung Fairweather di ujung timur laut dari Teluk Lituya.



Pada malam 9 Juli 1958 gempa bumi di sepanjang Sesar Fairweather di Alaska Panhandle melongsorkan sekitar 30.600.000 meter kubik tanah dan batuan dari tebing yang tinggi di atas pantai timur laut Teluk Lituya. Massa batu-batuan ini jatuh dari ketinggian sekitar 914 meter ke dalam perairan Gilbert Inlet (lihat peta). Dampak yang dihasilkan adalah tsunami lokal yang menabrak garis pantai barat daya dari Gilbert Inlet. Gelombang itu menghantam dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga menyapu sepenuhnya daratan yang memisahkan Gilbert Inlet dari tubuh utama Lituya Bay. Gelombang itu lalu berlanjut ke sepanjang Teluk Lituya, hingga ke La Chaussee Spit dan ke Teluk Alaska. Kekuatan gelombang mencerabut semua pohon dan vegetasi di tepi teluk hingga ketinggian 524 meter di atas permukaan laut. Jutaan pohon tumbang dan tersapu oleh gelombang. Ini adalah gelombang tertinggi yang pernah dikenal manusia.
Daerah yang rusak ini ditunjukkan dengan warna kuning pada peta di atas. Angka-angka yang tertera adalah ketinggian (satuan kaki) dari daerah yang mengalami kerusakan akibat gelombang dan merupakan perkiraan ketinggian gelombang saat berjalan melalui teluk.


Foto Teluk Lituya beberapa minggu setelah tsunami 1958. Daerah hutan yang hancur terlihat jelas di sepanjang garis pantai Teluk.

Topografi teluk Lituya adalah bahan utama dalam pembentukan tsunami. ( Atau, lebih informal, Megatsunami, kata yang digunakan untuk menggambarkan gelombang dengan tinggi lebih dari 100 meter) .
Pemicunya, bagaimanapun, adalah longsor besar di kepala Teluk Lituya, disebabkan oleh gempa bumi sekuat 8,3 SR. Sekitar 30 juta meter kubik batu – jatuh dari ketinggian 3.000 kaki – menuruni sisi Lituya Glacier ke Gilbert Inlet di ujung utara Teluk.
Perpindahan air tiba-tiba menciptakan gelombang yang mengarah ke laut dari daratan. Tapi kejadian serupa di Norwegia, di mana fjords berlimpah, tidak pernah menghasilkan gelombang yang sebesar itu.


Tebing di dinding timur laut dari Gilbert Inlet menunjukkan bekas dari 30.600.000 meter kubik batu yang longsor yang terjadi sebelum foto ini diambil. Kepala longsoran berada di ketinggian sekitar 914 meter , tepat di bawah salju di tengah atas. Ketinggian air di Teluk Lituya adalah permukaan laut. Bagian depan Lituya Glacier terlihat di sudut kiri bawah

Gelombang yang dihasilkan di Teluk Lituya malam itu setinggi 524 meter. Bagaimana gelombang bisa mencapai ketinggian seperti itu masih bersifat spekulatif, tetapi para ilmuwan mengamati bahwa danau subglacial di belakang Lituya Glacier telah surut sejauh 100 kaki. Penjelasan paling mungkin untuk itu adalah air yang hilang menerobos celah yang disebabkan oleh gempa dan mencapai fjord, menambah tekanan. Tetapi bahkan dengan faktor penyumbang ini , ahli geologi tidak percaya bahwa semua itu cukup untuk membuat gelombang besar tersebut. Penjelasan yang tepat belum pernah ditawarkan.


Tebing di mana batu longsor berada di sisi kanan Gilbert Inlet (kanan gambar). Tebing di sisi kiri Gilbert Inlet menerima kekuatan penuh gelombang besar, sehingga menggerus tanah dan pepohonan.

Hebatnya, beberapa saksi mata di Teluk pada saat tsunami melanda, masih hidup untuk menceritakan kisah tersebut. Namun ada dua orang tewas ketika gelombang menenggelamkan kapal nelayan mereka di dekat mulut Teluk.
Pada mulut teluk, La Chaussee Spit dan Harbor Point, benar-benar gundul oleh tsunami. Namun demikian, gelombang cepat kehabisan tenaga saat memasuki Teluk Alaska dan segera hilang, tidak menyebabkan masalah lebih lanjut.


Tanah antara Gilbert Inlet dan Teluk Lituya yang menerima kekuatan penuh gelombang. Pohon dan tanah yang dilucuti ini berada di ketinggian 524 meter di atas permukaan Teluk Lituya.


Daerah kerusakan yang disebabkan oleh gelombang di sepanjang garis pantai dari Teluk Lituya , dilihat dari selatan.


Kerusakan yang ditimbulkan gelombang di pantai selatan dari Teluk Lituya, dari Harbor Point ke La Chaussee Spit, mulut teluk. Lokasi ini adalah 11,3 kilometer jauhnya dari tempat gelombang berasal.

Ini adalah Simulasi dari Megasunami di Teluk Lituya


Nah, video dibawah ini adalah video longsor terjadi di Malaysia pada bekas tambang timah terbuka yang terletak dekat Pantai Remis, di Selat Malaka. Menjelang akhir video ini kita dapat melihat air laut dengan jumlah yang luarbiasa bergegas mendorong tanah dan mengisi ceruk. Ketika semua berakhir, teluk baru terbentuk, dengan lebar lebih dari 800 meter! Mungkin ini tidak sebesar dan sehebat Longsor di Lituya, namun sedikit banyak dapat memberikan kita gambaran …

Written by: Dede Anna
Menghidupkan Komunikasi, Updated at: 8:32 AM

Tempat-Tempat Paling Spektakuler di Dunia


Di dunia ini begitu banyak tempat-tempat indah dan spektakuler yang sebenarnya sayang untuk kita lewatkan dalam lawatan. Namun kebanyakan orang tidak punya cukup waktu dan mungkin biaya untuk mengunjungi tempat-tempat indah di seluruh dunia. Mungkin foto-foto spektakuler dari tempat-tempat Indah di dunia ini, yang dikutip dari Alam Mengembang Jadi Guru, akan membantu kita menikmatinya

Danxia Landform, China



Pantai Merah Panjin



Lautan Kuning di Luoping, China



Crescent Lake – Oasis Gurun Pasir di China



Raja Ampat Islands



Laut-Laut yang Bersinar



Cappadocia, Turki



Laut Aral Yang Mengering



Hang Son Doong, Gua Terbesar di Dunia



Danau Merah Muda Retba



Gurun Namib



Danau Natron, Tanzania



Hutan Batu Madagaskar (Tsingy de Bemaraha)



Surga Bunga di Hitachi Seaside Park, Jepang



Indahnya Gua-Gua Gletser



Indahnya Gua Gletser di Kamchatka

Written by: Dede Anna
Menghidupkan Komunikasi, Updated at: 8:16 AM

Wednesday, October 15, 2014

Air Terjun Alami yang Ditelan oleh Danau Buatan

Hanya dua puluh kilometer di utara air terjun Iguazu, di sepanjang perbatasan antara Brasil dan Paraguay, terletak keajaiban alam lainnya yang bahkan lebih spektakuler daripada Iguazu, yang disebut Air Terjun Guaira atau Seven Falls (Sete Quedas dalam bahasa Portugis). Air Terjun Guaira adalah serangkaian 18 air terjun besar di Sungai Paraná terletak pada titik di mana sungai dipaksa mengalir melalui ngarai sempit.
Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang jadi Guru, Pada kepala air terjun, sungai menyempit tiba-tiba dari lebar sekitar 380 meter menjadi sekitar 60 meter, menciptakan salah satu air terjun yang paling kuat di bumi dengan laju alir dua kali lipat dari air terjun Niagara. Air yang jatuh menghantam batuan menciptakan suara yang memekakkan telinga yang bisa didengar dari jarak 30 km jauhnya. Bertahun-tahun, air terjun guaira telah menjadi daya tarik wisata dan menjadi favorit di antara penduduk setempat, sampai tahun 1982 ketika militer Brasil meledakkan bebatuan di mana air jatuh untuk menciptakan reservoir bagi bendungan Itaipu (Itaipu Dam) yang baru dibangun.



Itaipu Dam adalah pembangkit listrik tenaga air yang terbesar yang beroperasi dalam hal produksi energi tahunan, menghasilkan hampir 100 Tera Watt Jam listrik setiap tahunnya, yang menyumbang 75% dari listrik yang dikonsumsi oleh Paraguay dan 17% dari yang dikonsumsi oleh Brazil. Untuk membangun bendungan besar seperti Itaipu, maka beberapa pengorbanan harus dibuat, dan salah satunya adalah membanjiri dan menenggelamkan air terjun Guaira.
Selama sebulan sebelum guaira ditenggelamkan, ribuan wisatawan berbondong-bondong ke daerah itu untuk melihat air terjun untuk terakhir kalinya. Ketika sekelompok wisatawan yang antusias berjalan di atas jembatan gantung yang melintasi sungai parana di area Guaira, jembatan gantung tersebut runtuh karena kelebihan beban dan mengakibatkan kematian 32 orang.



Saat air mulai naik, ratusan orang berkumpul untuk berpartisipasi dalam guarup, ritual adat untuk mengenang air terjun. Penenggelaman berlangsung selama 14 hari, dilakukan saat musim hujan ketika level air sungai Paraná tinggi. Pada tanggal 27 Oktober 1982, reservoir ini sepenuhnya terbentuk dan air terjun pun lenyap. Pemerintah Brazil kemudian men-dinamit bebatuan di area air terjun yang telah terendam air, untuk lebih memudahkan navigasi yang lebih aman di sungai.
Direktur perusahaan yang membangun bendungan, kemudian mengeluarkan pernyataan yang mengatakan, “Kami tidak menghancurkan air terjun. Kami hanya akan mentransfernya ke Itaipu Dam, yang spillway nya akan menjadi pengganti keindahan air terjun Guaira”.




Sebelum ditenggelamkan


Setelah tenggelam


Bendungan Besar Itaipu

Written by: Dede Anna
Menghidupkan Komunikasi, Updated at: 8:08 AM

St. Pierre – Surga yang Menjadi Neraka

Gunung berapi yang kurang terkenal, Gunung Pelee, menjulang anggun di dekat kota St Pierre di Pulau Martinique, Karibia Perancis. Kota St Pierre dahulunya menunjukkan kemegahan kota kolonial yang hidup, dan dikenal sebagai “Paris dari Hindia Barat.” Dengan Cottage yang berubin merah, jalan-jalan yang lebar dan vegetasi tropis, kota yang makmur ini dikenal keindahannya.
Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Tentu saja sebagai kota penghasil rum minuman beralkohol hasil fermentasi dan distilasi) banyak bar-bar dan rumah-rumah bordil disana. Sensus resmi tahun 1894, penduduk St Pierre adalah sekitar 20.000 jiwa. Meskipun sebagian besar adalah Martiniquans (pribumi) asli, kekayaan dan kekuasaan politik dikendalikan sebagian besar oleh keluarga Creole dan pejabat kolonial Perancis dan beberapa pegawai negeri sipil. Tidak seorangpun pada saat itu bisa meramalkan horor yang akan terjadi di surga tropis ini dengan kebangkitan Gunung Pelee pada musim semi tahun 1902.

Surga yang Berubah Menjadi Neraka
Meskipun di Januari 1902 Gunung Pelee mulai menunjukkan peningkatan mendadak dalam aktivitas fumarol, masyarakat sekitarnya hanya menunjukkan sedikit perhatian. Namun gunung mulai mendapat perhatian pada tanggal 23 April ketika ledakan kecil dimulai di puncak gunung berapi. Selama beberapa hari berikutnya, St Pierre diguncang gempa vulkanik, mandi dalam abu, dan diselimuti awan tebal gas belerang.


St Pierre sebelum Letusan

• Pada tanggal 25 April, gunung memancarkan awan besar yang mengandung batu dan abu dari puncak, di mana Étang Sec – sebuah cekungan – terletak. Materilal vulkanik yang dikeluarkan tidak menyebabkan kerusakan yang bermakna.
• Pada tanggal 26 April, daerah itu ditaburi oleh abu vulkanik dari letusan berikutnya; otoritas publik masih tidak melihat alasan untuk khawatir.
• Pada tanggal 27 April, beberapa ekskursionist naik gunung dan melihat Etang Sec telah terisi dengan air, membentuk danau dengan diameter 180 meter. Ada kerucut puing-puing vulkanik setinggi 15 meter di satu sisi, yang mengairi danau dengan aliran air mendidih. Suara menyerupai kuali dengan air mendidih terdengar dari bawah tanah. Bau yang kuat dari belerang mencapai seluruh kota, 4 mil jauhnya dari gunung berapi, menyebabkan ketidaknyamanan kepada orang-orang dan kuda.
• Pada tanggal 30 April, sungai Roxelane dan Riviere des Peres meluap, membawa batu-batu dan pohon-pohon dari puncak gunung. Desa-desa Precheur dan Ste. Philomene menerima aliran abu.
• Pada pukul 11:30 tanggal 2 Mei, gunung menghasilkan ledakan keras, gempa bumi, dan pilar besar asap hitam yang pekat. Abu dan batu apung halus menutupi bagian utara seluruh pulau. Ledakan terus terjadi dalam interval 5-6 jam. Hal ini menyebabkan koran lokal Les Colonies untuk menunda piknik ke gunung, yang rencananya dilaksanakan tanggal 4 Mei. Vegetasi dan fauna mulai sekarat karena kelaparan dan kehausan, karena sumber-sumber air dan makanan yang terkontaminasi dengan abu.
• Pada hari Sabtu, 3 Mei angin meniup awan abu ke utara, mengurangi situasi buruk di St Pierre. Hari berikutnya jatuhnya abu lebih intensif, dan komunikasi antara St Pierre dan distrik Precheur putus. Awan abu itu begitu padat sehingga kapal pesisir takut untuk berlayar melaluinya. Banyak warga memutuskan untuk mengungsi, sehingga kapal uap melebihi kapasitas, dan tak jadi berlayar. Hewan-hewan, baik yang liar maupun peliharaan menjadi gelisah; Guérin Sugar Works, dua km sebelah barat laut dari St Pierre, diserbu oleh segerombolan besar semut bintik dan lipan besar, yang beberapa kuda hiruk-pikuk dan memaksa para pekerja menaklukkan serangga-serangga tersebut. Di St Pierre, ratusan ular fer-de-lance merayap melalui jalan-jalan, menggigit siapa saja yang mereka temui hingga menewaskan 50 orang (belum termasuk hewan peliharaan yang juga mereka gigit) sehingga tentara dikerahkan untuk membunuh ular-ular tersebut.


Ular fer-de-lance

• Pada hari Senin, 5 Mei gunung tampaknya sedikit tenang; Namun, pada sekitar pukul 01:00, laut tiba-tiba surut sekitar 100 meter dan kemudian bergegas kembali, membanjir kota, dan awan asap besar muncul arah barat gunung. Salah satu dinding kawah Etang Sec runtuh dan mendorong massa air mendidih dan lumpur, atau lahar, ke sungai Riviere Blanche. Air panas dicampur dengan puing-puing piroklastik menghasilkan lahar besar menuruni lereng dengan kecepatan hampir 100 kilometer per jam. Lahar besar mengubur segala sesuatu yang dilaluinya. Dekat muara sungai, utara dari St Pierre, lahar ini menyerbu penyulingan rum, menewaskan 23 pekerja. Lahar terus ke laut, di mana ia menghasilkan tsunami setinggi tiga meter yang membanjiri daerah dataran rendah di tepi St Pierre.

PEMILU

Para penduduk menjadi semakin stres, menyebabkan banyak yang untuk mempertimbangkan meninggalkan St Pierre ke kota kedua Martinique, Fort-de-France. Namun, Gubernur Louis Mouttet telah menerima laporan dari komite yang naik ke gunung berapi tersebut untuk menilai bahaya. Satu-satunya ilmuwan dalam kelompok itu adalah seorang guru sekolah menengah setempat. Laporan tersebut menyatakan bahwa “tidak ada aktivitas Gunung Pelee yang dapat memberi ancaman yang signifikan bagi kota St Pierre. Gubernur menyimpulkan bahwa keamanan St Pierre benar-benar terjamin.
Laporan ini mengurangi kekhawatiran publik, dan memberi harapan kepada pejabat kota yang sangat cemas bahwa pemilu di kota yang rencananya dilaksanakan tanggal 11 mei tidak jadi dilaksanakan. Gubernur Mouttet meyakinkan editor konservatif dari koran harian Les Colonies untuk mengecilkan bahaya gunung berapi, dan untuk memimpin upaya yang mendorong orang untuk tidak mengungsi ke Fort-de-France. Namun, beberapa warga tetap ingin meninggalkan kota. Hal ini mendorong Gubernur Mouttet untuk mengirim pasukan untuk berpatroli jalan yang menuju ke Fort-de-France, dengan perintah untuk mengembalikan pengungsi yang mencoba untuk meninggalkan kota. Berdasarkan artikel yang muncul di Les Colonies, banyak orang-orang di pedesaan berbondong-bondong ke St Pierre berpikir bahwa kota ini adalah tempat yang paling aman untuk mengunsi. Populasi membengkak menjadi sekitar 30.000 orang, dan hampir semuanya akan binasa dalam letusan dahsyat tanggal 8 Mei.

Letusan 8 Mei 1902

Pemilihan yang dijadwalkan 11 Mei pun akhirnya tidak pernah terjadi. Laporan yang dikeluarkan oleh komite investigasi pada tanggal 5 Mei, gagal untuk menyadari potensi bahaya dari takik besar berbentuk V di sekitar kawah puncak. Takik tersebut seperti moncong senapan kolosal yang mengarah langsung ke St Pierre yang terletak empat mil di bawahnya.
Pada sekitar 07:50 pada tanggal 8 Mei, gunung berapi meletus dengan raungan memekakkan telinga. Awan hitam besar terdiri dari gas super panas, abu dan batu berguling (inilah awan piroklastik atau wedhus gembel, namun belum dikenal oleh ilmu pengetahuan saat itu) ke sisi selatan Gunung Pelee dengan kecepatan lebih dari 100 km per jam, jalurnya diarahkan oleh takik berbentuk V di puncak.
Dalam waktu kurang dari satu menit awan hitam besar itu melanda St Pierre dengan kekuatan badai. Ledakan itu cukup kuat hingga membawa patung seberat tiga ton bergerak sejauh enam belas meter dari tempat asalya. Dinding gereja setebal satu meter tertiup langsung menjadi puing-puing dan rangka-rangka besi pun membengkok. Panas yang membakar dari awan memicu kebakaran besar. Ribuan barel rum yang disimpan di gudang kota ini meledak, menciptakan sungai api dari cairan yang menyala melalui jalan-jalan dan ke laut.
Awan terus maju hingga ke pelabuhan di mana ia menghancurkan setidaknya dua puluh kapal yang berlabuh. Kekuatan badai ledakan membalikkan kapal uap besar Grapple, dan panasnya menghanguskan kapal layar amerika, Roraima, membunuh sebagian besar penumpang dan awak. Kapal Roraima hanya beberapa jam tiba disana sebelum letusan terjadi. Orang-orang di atas kapal yang agak jauh dari pantai hanya bisa menyaksikan dengan ngeri, awan besar hitam itu turun dan memusnahkan kota St Pierre. Dari ~ 30.000 orang di St Pierre, hanya ada dua orang yang diketahui selamat.


Kota St Pierre Setelah Letusan Gunung Pelee

Sebuah kapal perang tiba menuju pantai di sekitar 12:30, tapi karena hawa yang sangat panas mencegah pendaratannya sampai sekitar 03:00. Kota ini terbakar hingga beberapa hari lagi. Daerah hancur oleh awan piroklastik mencakup sekitar 8 mil persegi, dengan kota St Pierre di pusatnya. Awan piroklastik tersebut diperkirakan mencapai suhu 1.000 °C.

Mereka yang Selamat
Meskipun hanya dua orang yang lolos selamat di St Pierre, sebenarnya ada korban ditemukan masih bernyawa lainnya dari jauh di pinggiran kota dan dari beberapa kapal yang tertambat di pelabuhan. Beberapa korban tewas mungkin langsung meninggal semata-mata oleh kekuatan ledakan, tetapi sebagian besar meninggal dalam beberapa detik setelah terlanda aliran piroklastik. Tenggorokan dan paru-paru sebagian besar almarhum yang menyengat dan tubuh mereka terbakar.
Pembuat Sepatu

Seorang pembuat sepatu muda, Léon compere-Leandre, sedang duduk di depan pintu rumahnya ketika awan panas datang. Meskipun kondisinya mengalami luka bakar sangat parah, namun ia selamat dan tetap mellanjutkan hidupnya, sebagian karena kesehatannya yang baik, tetapi juga karena rumahnya berada di tepi aliran piroklastik. Berikut adalah pengalamannya, dalam kata-katanya sendiri:
“Saya merasakan angin bertiup mengerikan, bumi mulai bergetar, dan langit tiba-tiba menjadi gelap. Aku berbalik untuk masuk ke dalam rumah, dengan kesulitan besar saya naik tiga atau empat anak tangga yang memisahkan saya dari kamar saya, dan saya merasa lengan dan kaki terbakar, juga tubuh saya. Saya terjatuh di atas meja. Pada saat ini empat orang lainnya mencari perlindungan di kamar saya, menangis dan menggeliat dengan rasa sakit, meskipun pakaian mereka tidak menunjukkan ada tanda-tanda yang telah disentuh oleh api. Setelah 10 menit, salah seorang dari mereka, gadis muda Delavaud, berusia sekitar 10 tahun, jatuh tewas, … yang lainnya pun menyusul. Saya bangun dan pergi ke ruangan lain, di mana saya menemukan ayah Delavaud, masih berpakaian dan berbaring di tempat tidur, tewas dan berwarna ungu, tapi dengan pakaian masih utuh. Hampir gila karena panas, saya menjatuhkan diri ke tempat tidur, dan menunggu kematian. Kesadaran saya kembali ke saya dalam mungkin satu jam, ketika aku melihat atap terbakar. dengan kekuatan yang tertinggal dari kaki, kaki saya yang berdarah dan ditutupi dengan luka bakar, saya berlari ke Fonds-Sait-Denis, enam kilometer dari St Pierre.”

Narapidana

Seorang lainnya yang selamat di St Pierre adalah seorang buruh pelabuhan 25 tahun bernama Louis-Auguste Cyparis, yang dijuluki “Samson”. Pada awal April, Samson dimasukkan ke dalam penjara karena melukai salah seorang temannya dengan belati. Menjelang akhir masa hukumannya, ia melarikan diri dari hukuman kerja nya, berdansa sepanjang malam, dan kemudian menyerahkan diri ke pihak berwenang keesokan harinya. Untuk ini, ia dijatuhi hukuman kurungan selama seminggu di sebuah bangunan batu kecil (mirip bunker) yang paling kuat dan tebal di St Pierre. Pada tanggal 8 Mei dia sendirian di penjara dengan hanya lubang lubang kecil di atas pintu. Sambil menunggu sarapan, selnya menjadi gelap dan ia berjuang melawan hembusan intens udara panas bercampur dengan abu yang masuk melalui lubang kecil tersebut. Dengan menahan nafas dan rasa sakit, ia berusaha menutupi lubang tersebut. Setelah beberapa saat, panas mereda. Dia sendiri mengalami luka bakar, namun berhasil bertahan hidup selama empat hari sebelum ia diselamatkan oleh para penyelamat yang menjelajahi reruntuhan St Pierre. Setelah ia sembuh, ia menerima pengampunan dan akhirnya bergabung dengan Barnum & Bailey Circus, di mana ia melakukan tur dunia dengan julukan “Lone Survivor St Pierre.”

Menara Besar Pelée

Menara lava felsic megah ini dihasilkan pada tahap memudarnya
letusan Gunung Pelee tahun 1902.


Menara Pelée diambil bulan Oktober tahun itu, sebuah kubah lava menjulang dari lantai kawah. Ini tumbuh selama satu tahun dan memadat menjadi poros raksasa dalam bentuk sebuah obelisk. Menara ini telah digambarkan oleh banyak orang sebagai kubah lava paling spektakuler yang pernah dihasilkan dalam sejarah tercatat. Itu 100-150 meter tebalnya pada bagian dasar dan menjulang setinggi lebih dari 300 meter di atas dasar lantai kawah. Kadang-kadang naik pada tingkat yang luar biasa, hingga 15 meter/ hari. Kubah besar lava ini dikenal sebagai “Menara Pelee.” Pada malam hari monolit megah ini ditandai dengan jejak retak pijar merah dari lava yang masih panas di bagian dalamnya.
Pada ukuran maksimum, Menara Pelee dua kali tinggi Monumen Washington dan volumenya sama dengan Piramida Besar (Cheops) Mesir. Akhirnya menjadi tidak stabil dan runtuh ke dalam tumpukan puing vulkanik, Maret 1903, setelah 11 bulan pertumbuhan. Tidak ada ahli geologi yang pernah menyaksikan munculnya suatu objek seperti ini sebelumnya.

Written by: Dede Anna
Menghidupkan Komunikasi, Updated at: 7:48 AM

Tuesday, September 16, 2014

Top 10 Kapal Pesiar Terbesar di Dunia

Melintasi samudera selalu mempesona kita. Melintasi samudera dalam kemewahan yang luar biasa dan kenyamanan menjadi semakin penting bagi para penumpang dan juga pemilik kapal. Ini terjadi ketika kapal pesiar mulai mendapatkan popularitas, dalam ukuran dan kemewahan. Saat ini, persaingan antara kapal pesiar terbesar di dunia sangat ketat. Dari tahun ke tahun, kapal lain yang lebih besar dibangun, fitur baru ditambahkan dan berbagai kegiatan rekreasi menjadi lebih dan lebih beragam. Kapal-kapal pesiar besar ini menjadi kota penuh kesenangan dan para penumpangnya tidak bisa tidak menikmati arus modernisasi ini.
Inilah 10 Kapal Pesiar Terbesar di Dunia Seperti yang dikutip dari Alam Mengembang Jadi Guru

1. Allure of the Seas

Allure of the Seas, adalah kapal pesiar terbesar di dunia, dibangun di Turku Finlandia. Perjalanan pertamanya adalah pada Oktober 2010, ketika kapal berangkat ke port asalnya, di Florida. Acara ini disiarkan dan mendapat banyak kritik. Dikarenakan jarak antara cerobong kapal dan anjungan terlalu kecil serta risiko tabrakan cukup tinggi. Para Spesialis tidak setuju dengan pendapat tersebut. Allure of the Seas memiliki sebuah aula, dua dek tari, serta teater, kafe Starbucks (pertama kali di sebuah kapal) dan bahkan arena skating es. Selengkapnya baca disini

2. Oasis of the Seas

Oasis of the Seas adalah nomor dua dalam daftar ini, meskipun menjadi saudara kembar dari kapal nomor satu diatas. Ini karena perbedaan beberapa inchi yang tidak disengaja antara kedua kapal ini. Oasis of the Seas membuat rekor baru ketika membawa 6.000 orang. Biaya pembuatankapal mewah ini diperkirakan mencapai 1,4 miliar dollar, dan bobot 100.000 ton, sama dengan Allure of the Seas. Di antara fasilitas kapal adalah program mini-golf, beberapa bar, klub, kolam renang serta lapangan voli dan basket. Penumpang dapat menikmati banyak acara dan kegiatan lainnya juga.

3. Freedom of the Seas

Kapal ini berada di posisi teratas sebelum pembangunan dua kapal di atas. Kapal ini dapat membawa 4600 orang termasuk awak dan biaya pembuatannya adalah sekitar 800juta dolar. Kapal luar biasa ini dimiliki oleh The Royal Caribbean International, sama seperti kedua kapal diatas. Kapal ini juga memiliki beberapa fasilitas keren, seperti taman air, Sorrento ‘s pizza, Wi-Fi dan cakupan telepon seluler, serta bioskop 3D.

4. Liberty of the Seas

Kapal ini berada di tempat yang sama dengan kapal nomer tiga diatas dalam kelas yang sama, yang disebut ‘Freedom class’, biaya konstruksinya dan jumlah maksimal orang yang diperbolehkan untuk naik juga sama. Panjang Liberty of the Seas adalah 338,91 meter dan lebarnya adalah 56,8 meter. Kapal ini berfitur 18 deck, 15 di antaranyaadalah untuk penumpang. Kapal besar ini adalah salah satu yang teraman di dunia, jadi Anda seharusnya tidak memiliki kekhawatiran jika Anda berencana menaiki kapal pesiar ini.

5. Independence of the Seas

Seperti dalam kasus kapal-kapal lainnya yang disajikan di sini, Royal Caribbean International adalah pemilik dari Independence of the Seas. Menjadi adik dari dua kapal sebelumnya, memiliki ukuran yang hampir sama. Kapasitas kapal ini adalah 5710 orang, termasuk kru, lebih banyak dari dua kapal diatas. Kapal ini berlayar pada kecepatan 40 Km per jam, di perairan Eropa. Di antara atraksi yang besar adalah dek olahraga, jalan perbelanjaan dan kolam air panas segar, tipe pertama dari jenis kapal yang dimiliki perusahaan ini.

6. Norwegian Epic

Norwegian Epic milik Norwegian Cruise line dan dilengkapi dengan spa kelas dunia, sebuah pusat kebugaran, klub dan ‘white hot party’ yang terkenal di dunia. Norwegian Epic juga memperkenalkan tipe baru pesiar, jelajah gaya bebas, yang memungkinkan penumpang untuk menikmati jadwal fleksibel (termasuk jam makan malam dan pilihan menu), sesuai keinginan masing-masing penumpang. Inovasi ini membuat Norwegian Cruise Line adalah salah satu pilihan terbaik untuk perjalanan pesiar, apapun alasannya.

7. Queen Mary 2

Kapal ini adalah kapal laut trans atlantik dan pada saat peluncurannya (2003), ini adalah kapal pesiar terbesar di dunia. Meskipun kemudian tergeser oleh kapal-kapal pesiar Karibia yang disebutkan diatas, kapal ini tetap menjadi kapal pesiar terbesar dalam sejarah, sampai hari ini. Queen Marry 2 dimiliki oleh Cunrad Line ad, dan perkiraan biaya pembuatannya sekitar 900 juta dolar. Di antara atraksi aslinya adalah sebuah ballroom dan satu-satunya planetarium yang pernah dibangun di atas sebuah kapal. Berbeda dengan Norwegian Epic, konsep inggris dari kapal pesiar ini adalah simbol dari penghapusan sistem perbedaan kelas.

8. Navigator of the Seas

Dimiliki oleh Royal Caribbean International, kapal ini termasuk kelas Voyager, tetapi memiliki beberapa sifat khas dibandingkan dengan kapal-kapal lain di kategorinya. Salah satu fitur tersebut adalah balkon kaca dan prasmanan Asia. Navigator of the Seas berlayar di Eropa pada musim panas dan di Amerika Serikat selama musim dingin. Kapal besar ini memiliki panjang 311,1 meter dan lebar 49,1 meter.

9. Mariner of the Seas

Mariner of the seas adalah saudara kembar dari Navigator, karena, kapal ini ini memiliki fitur yang sama yang membedakan dua kapal ini dari kapal lain di kelas Voyager. Kapal ini biaya produksinya mencapai $ 650 juta dan memiliki fasilitas tempat yang besar, serta interior dan eksterior balkon yang menawarkan pemandangan yang lebih baik dan berbagai macam pilihan makan malam. Kapal ini berpesiar di Eropa, antara negara-negara Mediterania dan menawarkan liburan yang tak terlupakan ke semua penumpangnya.

10. Explorer of the Seas

Kapal pesiar terakhir di daftar ini, Explorer of the seas dibangun pada tahun 2000, menjadi kapal pesiar terbesar di dunia pada saat itu. Kapal ini memiliki panjang 311 meter dan lebar 38 meter serta bobot 137, 308 ton (tonase kotor). Di antara kenyamanan nya (revolusioner pada waktu itu dan tetap indah sampai saat ini) adalah rock-climbing wall, restoran dan bar bertema, laboratorium oseanografi dan atmosfer yang akan digunakan oleh para ilmuwan, ruang konferensi yang sangat lengkap serta daya tarik lainnya

Written by: Dede Anna
Menghidupkan Komunikasi, Updated at: 8:49 AM